Sejak kecil, ntah di sekolah formal, di madrasah atau di lingkungan sekitar, saya selalu mendengar kalimat, “Berbuat baiklah, karena kebaikan akan selalu kembali pada kita.”
Namun, semakin dewasa, saya sering mempertanyakan ketidaksesuaian kalimat itu. Kebaikan kita seringkali dilupakan, bahkan mungkin tak kembali pada kita. Kecewa, sedih, marah, kenapa harus memercayai dan memegang prinsip tersebut belasan tahun?
Saya ingat satu momen ketika saya masih masih duduk di bangku SD. Rumah kami kedatangan tamu, masih keluarga memang, tapi Bapak selalu bilang bahwa siapapun yang datang ke rumah —meskipun itu ibu atau kakaknya Bapak— harus dijamu dengan hidangan dan disambut sebaik mungkin seperti kita nerima tamu (oranglain).
Saat itu, lampu mati sewaktu kami makan malam. Karena waktu itu kami makan lesehan di ruang tengah, sedikit ribet kalau harus memindahkan satu persatu makanan di piring ke dapur atau ruang tamu. Alhasil, Bapak ambil lampu belajar saya dari kamar. Andai fitur hape zaman dulu secanggih sekarang, mati lampu cukup nyalain torch dari hape, heheh.
Tapi, cahaya dari satu lampu belajar nggak cukup menerangi keseluruhan hidangan, kami harus ambil si lampu pake tangan kiri dan disorotin ke piring tiap mau tambah lauk, jadilah Bapak ke luar buat beli lampu.
“Nih, Bapak beli bohlam yang super terang,” Ujar Bapak sambil ngeluarin dus lampu LED yang isinya tiga buah lampu dengan lumen super terang. Saking terangnya, nenek betah ngaji lama-lama di bawah lampu itu.
Selesai pasang lampu, kami lanjut nambah nasi dan ngobrol panjang lebar.
Dua puluh satu tahun kemudian dari momen di atas, saya mengalami momen yang sama; menyuap di bawah remang-remang. Namun, dengan perasaan dan kondisi berbeda.
Selepas pengajian, saya bertamu dulu ke rumah seseorang karena hujan nggak kunjung reda. Di sana, saya dan anak-anak dijamu dengan mie bakso. Katanya, cocok makan yang berkuah saat cuaca dingin. Waktu lagi asyik makan, salah satu anak si ibu keluar dari kamarnya sambil berkata, “Siang-siang gini udah nyalain lampu.” Ia mematikan satu-satunya lampu yang menerangi ruangan itu, lalu kembali ke kamarnya.
Tampak sekali raut wajah tidak enak dari sang ibu, namun sepertinya ia tidak bisa berkata apa-apa.
Karena saat itu menuju sore, langit nggak lagi seterang siang, ditambah cuaca yang lagi hujan dan ruangan yang minim penerangan. Saya harus membungkuk ke meja untuk mastiin nggak ada bawang goreng dan seledri yang masuk ke sendok, karena anak ke-2 saya nggak suka. Ingin sekali menyalakan senter hape, tapi saya akan semakin nggak enak sama si ibu.
Sambil mengunyah mie dan bakso, saya berpikir. Ke mana perginya kebaikan yang bapak lakukan dulu? Apakah malaikat lupa mencatatnya? Dan sederet pertanyaan lain yang berputar di kepala. Bahkan, setelah sampai di rumahpun, saya tetap mempertanyakan tentang kebaikan itu.
Sampai akhirnya saya menemukan jawaban dari kenangan lain. Memori saya tiba-tiba memutar kembali ingatan tentang kebaikan oranglain pada anak saya. Ada banyak sekali kebaikan yang ia dapatkan, ntah dari temannya, gurunya atau bahkan wali murid yang nggak bisa saya hitung dan sebutin satu-satu.
Saya sadar, bahwa buah kebaikan kita atau orangtua kita pasti bisa dirasakan kembali tapi terkadang dengan cara dan kondisi yang berbeda. Kita sering mendambakan kembalinya kebaikan kita sama persis dengan apa yang kita berikan pada oranglain. Padahal balasan Allah atas kebaikan kita itu luas. Kita membuat oranglain nyaman atas sikap kita, balasannya mungkin saja dengan rumah yang nyaman dan menentramkan.
Sejak itu, saya nggak mau lagi memandang kebaikan secara transaksional. Apapun kejadian dan rasa sakit yang saya terima, nggak akan lagi saya kaitkan dengan kebaikan yang saya atau keluarga saya lakukan. Karena kebaikan itu wajib dilakukan manusia sedangkan ujian sendiri merupakan kebaikan Allah untuk menyadarkan kita.
Rasanya angkuh, ya? Sekali dapat ujian dari sikap seseorang, kita langsung adu kebaikan, “Kok diginiin, sih. Padahal kan saya/orangtua kurang baik apa coba…”
Padahal, kebaikan lain pun berdatangan.
Saya makin sadar, waktu anak pertama saya jatuh terguling dari tanjakan sampai tangannya terkilir dan kakinya lemas nggak bisa jalan. Ada bapak-bapak yang gendong anak saya sampai ke jalanan yang lurus dan landai, katanya nggak bisa kalau antar sampai rumah karena buru-buru. Nggak kebayang kalau saya yang harus gendong dia dari bawah, berat badan dia lebih dari setengahnya bobot saya.
Tapi, kebaikan orang itu nggak bikin saya menyalahkan keadaan, “Kenapa Tuhan memberikan pertolongan pada anak saya?” padahal saya belum pernah melakukan kebaikan serupa pada anak lain.
Ah, manusia memang seperti itu. Selalu merasa kebaikannya sia-sia kalau nggak dapat balasan yang sama, tapi lupa menyadari bahwa Allah membalas dengan kebaikan yang jauh lebih indah dari apa yang pernah kita lakukan. Nyatanya, kebaikan yang pernah kita lakukan nggak pernah benar-benar hilang, ia menjelma menjadi rentetan kebaikan lain yang tak pernah lupa jalan pulang.

