google-site-verification: google4086a67cad748863.html Waktu Bukan Jaminan Pereda Duka | Nurelice | Parenting Blogger

Waktu Bukan Jaminan Pereda Duka

 

Setelah hampir satu bulan saya menon-aktifkan akun Instagram saya karena pada aplikasi itu bertebaran video mengenai kepergian seorang ayah. Iya, selepas Bapak berpulang, saya sempat menyukai satu-dua unggahan yang menceritakan tentang pedihnya ditinggal orang terkasih untuk selamanya. Algoritma membaca itu dan terus menerapkannya hingga hampir semua foto atau video di fitur explore saya dipenuhi hal serupa. 


Saya memilih rehat, karena kalau nggak, saya nggak akan pernah pulih. 


Lalu, kemarin, saya mengaktifkan kembali akun saya karena salah satu kerjaan yang membutuhkan pemeriksaan akun di platform tersebut. Di bagian paling atas beranda, berjejer foto berbentuk bulat menandakan mereka tengah membagikan story yang akan menghilang dalam kurun waktu 24 jam setelah terunggah. 


Perhatian saya tertuju pada satu foto profil teman lama saya yang berada di deretan paling awal. Lingkaran hijau mengelilingi fotonya. Artinya, hanya orang-orang tertentu saja yang ia persilakan untuk melihat. 


Unggahannya berisi foto nisan kayu yang warnanya sudah mulai menggelap, bagian bawah nisannya dipenuhi tanah hasil cipratan hujan. Bunga segar warna-warni memenuhi tanah, terlihat ia menunduk memandangi nisan. Tangan kirinya mencengkram erat butiran tanah yang mulai menggumpal, tangan kanannya memegang ujung atas batu nisan. 


Dalam foto itu, Ia menambahkan kalimat, “Pah, udah mau satu tahun, Pah.. Tapi aku masih gini aja, tiap hari aku nangis, dada selalu dipenuhi rasa bersalah. Maafin aku gak bisa ngurus Papah dengan benar ya, Pah. Papah ngerawat aku sampe aku di titik sekarang, dibesarin tanpa merasa kekurangan, tapi aku gak bisa jadi anak baik yang berbakti. Maaf, Pah.” 


Membaca itu membuat dada saya terasa panas. Saya merasakan hal yang sama; nggak bisa jadi anak yang berbakti. Anehnya, air mata saya nggak menetes sedikit pun. Padahal, semenjak Bapak divonis kanker paru stadium empat, mungkin saya jadi orang tercengeng di keluarga. 


Ntah berapa lama saya menekan layar agar story-nya terjeda, yang jelas, pikiran saya cukup lama menggambarkan dan merasakan kepedihan seorang anak yang selalu merasa bersalah atas kepergian orang tuanya. 


Untuk mereka yang belum pernah merasakan, mungkin hitungan bulan atau tahun dianggap waktu yang (seharusnya) cukup lama untuk bangkit dan pulih. Tapi bagi sebagian orang yang berduka diiringi beberapa luka lain, menyisakan trauma dan penyesalan yang (mungkin) memerlukan waktu lebih untuk pulih. 


Saat itu, saya hanya bisa merespon unggahannya dengan sebuah avatar dengan ekspresi sedih dan memeluk. Berat, bahkan hanya untuk menyemangati dengan kata ‘kuat’. Sulit, bahkan hanya untuk mengetik kata, “Ayo, bangkit!” 


Karena meskipun sama-sama merasa gagal menjadi seorang anak dan kehilangan ayah, ceritanya mungkin berbeda, level sakitnya pasti berbeda. 


Tujuh bulan sudah Bapak saya berpulang dan setahun Papahnya juga tiada, tapi kami masih seperti ini. Terkadang membagikan postingan yang dirasa cukup mewakili isi hati, bukan untuk menarik iba agar dikasihani, tapi ada perasaan lega karena mungkin tanpa disadari hal itu semacam terapi, sakit yang sedikit mereda ketika membagikan story. 


Seperti proses melahirkan, Tuhan menciptakan kehamilan dan mengatur cara melahirkan yang sama. Tapi prosesnya tak akan persis sama. Ada yang merasakan sakit luar biasa hingga meninggalkan trauma yang membuatnya tak ingin kembali merasakan untuk ke-2 kalinya. 


Begitupun dengan kematian, Tuhan menetapkan takdir bahwa setiap orang akan mengalaminya. Tapi, jalan setiap orang menuju takdir itu berbeda. Dan proses seseorang dalam menyaksikan orang terkasihnya menuju ‘takdir’-nya takkan sama. 


Kami bukan tidak ikhlas, hanya saja kami membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyembuhkan deretan luka sebelum kami ditimpa duka. 


Biarkan orang-orang yang kehilangan membagikan sesuatu tentang kehilangan tanpa penghakiman. Karena makin lama, air mata kami mengering, tapi tidak dengan dukanya. Ia masih basah dan menganga. 

0 Comments